Purwoceng (Pimpinella alpina) atau ‘Viagra Jawa’, kini menjadi ikon baru bagi kejantanan pria. Tanaman obat asli Pegunungan Alpen dan bisa tumbuh subur di Indonesia ini diyakini bakal menyaingi ketenaran Gingseng Korea, karena kualitas dan fungsinya yang hampir sama, tetapi memiiki harga yang jauh lebih murah. Tanaman obat satu ini tumbuh liar di beberapa pegunungan di Indonesia, terutama di Dieng, Bromo dan Pegunungan Iyang di Jawa Timur (Suripandak Abang), dan beberapa gunung di Jawa Barat. Akan tetapi yang terbaik yang tumbuh di Dieng.
Tanaman purwoceng mempunyai kandungan kimiawi yang bersifat aprodisiak (yaitu khasiat suatu obat yang dapat meningkatkan atau menambah stamina) menyebabkan keberadaannya semakin dicari orang. Pada mulanya, tanaman purwoceng digunakan oleh penduduk disekitar pegunungan Dieng (daerah asalnya) hanya untuk pemeliharaan kesehatan atau peningkatan derajat kesehatan. Namun sejalan dengan perkembangan penelitian dan isu yang dihembuskan, tanaman ini berkembang menjadi komoditas yang sangat ”laku jual” sebagai bahan aprodisiak, bahkan kini telah dipopulerkan oleh masyarakat dan Kelompok Tani setempat dengan sebutan ”Viagra Jawa”.
Keberadaan tanaman yang semakin langka disebabkan selain karena terdesak oleh pesatnya permintaan, juga karena pengadaannya memerlukan waktu. Atas dasar kelangkaan dan isu aprodisiak tersebut harga yang terjadi sekarang sangat tinggi.
